Tangerang: PSSI tengah menata kembali wajah sepak bola Indonesia. Berbagai terobosan pun coba dilakukan Ketua Umum Edy Rahmayadi beserta jajaran pengurus PSSI demi membentuk tim yang kuat di masa depan.

Dari berbagai program kerja yang telah disusun, pembinaan usia muda menjadi salah satu hal yang dinilai sangat krusial. Pelatih Timnas Indonesia U-22, Luis Milla menjadi salah satu orang yang sangat concern akan pentingnya pembinaan usia muda. Ia pun mendorong agar Indonesia, dalam hal ini PSSI untuk mulai membentuk tim di tiap-tiap kelompok usia dan dilatih secara benar, sehingga nantinya didapatkan pemain yang sudah memiliki skill, mental dan fisik yang mumpuni.

“Di Spanyol setiap umur ada sekolah yang berbeda. Di kelompok 5-12 tahun hanya untuk fun (untuk melihat talenta yang dimiliki). Di usia 11-13 tahun, kita mulai ajarkan taktik, kita kombinasikan talenta yang ada dengan taktik. Sedangkan di usia 15-17 tahun, kita mulai asah bagaimana cara menyerang, bertahan dan siap untuk jadi pemain profesional,” ujar Milla dalam acara A Night with The Manager di Hotel Yasmin, Karawaci, Tangerang, Jumat (31/3/2017).

Memang, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menjalankan program tersebut. Indonesia bukan seperti negera-negara Eropa laiknya Spanyol atau Jerman yang memiliki anggaran besar untuk menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan, mulai dari lapangan latihan yang bagus, hingga mendatangkan pelatih-pelatih kompeten.Lantas, apakah sepak bola Indonesia tidak bisa maju jika tidak memiliki dana yang besar? Milla tidak setuju dengan hal itu. Menurutnya, keterbatasan terkait dana bisa ditutupi dengan tekad yang kuat serta filosofi bermain yang jelas.

“Menurut saya, federasi yang negaranya tidak punya banyak uang untuk pembinaan, mereka biasanya punya keinginan yang kuat, motivasi yang lebih besar untuk jadi lebih baik,” lanjutnya.

“Kita harus punya filosofi, kita harus punya kurikulum, kita harus punya cara yang sama di semua lini. Kita ajarkan semua anak-anak filosofi yang sama, secara kontinyu. Setiap daerah tidak beda-beda,” tegas pelatih yang sukses membawa Timnas Spanyol U-21 jadi juara Piala Eropa U-19 pada 2011.

Pandangan Milla diamini Direktur teknik PSSI, Danurwindo yang juga hadir dalam acara tersebut. Dalam paparannya, coach Danur mengakui bahwa fondasi tim yang dimiliki Indonesia saat ini masih kurang bagus.

Untuk itu, ia beserta anggota tim teknis PSSI saat ini tengah menyusun kurikulum pembinaan sepak bola, yang nantinya akan diterapkan mulai dari usia muda hingga ke level senior.

“Kami ingin para pemain tahu bagaimana caranya bermain saat berada di depan, bagaimana mengalirkan bola dari tengah dan juga transisi, baik saat bertahan dan menyerang,” ujar Danur.Selain pemain, Danur juga tak menampik bahwa kualitas pelatih-pelatih yang ada di Indonesia saat ini masih sangat kurang. “Mereka terkadang tidak tahu porsi latihan seperti apa yang harus mereka berikan di tiap kelompok usia,” tegasnya.

Untuk itu, Danur dan tim teknis PSSI kini tengah menggalakkan program “kurikulum pelatihan PSSI” kepada pelatih-pelatih usia muda, sehingga mereka bisa memberikan materi yang tepat untuk anak-anak didiknya.

Mantan pelatih Timnas Indonesia yang sudah malang-melintang melatih di klub-klub besar Indonesia ini meyakini, jika program pembinaan usia muda bisa berjalan dengan benar dan dilakukan secara kontinyu, maka, Indonesia akan memiliki tim yang kuat.

Namun, ia menegaskan bahwa semua itu membutuhkan proses. Ia berharap publik tidak hanya menilai Timnas dari hasil yang mereka dapat ketika tampil di sebuah ajang. Sebab tidak ada yang instan dalam sepak bola.